Fi Asia Indonesia 2026 Siap Hadirkan 700 Merek Bahan Pangan Global

Fi Asia Indonesia 2026 Siap Hadirkan 700 Merek Bahan Pangan Global
Gandeng 700 Merek, Fi Asia Indonesia 2026 Perkuat Industri Pangan [FOTO: NET].

JAKARTA - Sektor industri makanan dan minuman saat ini sedang berhadapan dengan pergeseran masif pada ekspektasi dari konsumen. Sebuah produk makanan sekarang tidak cuma ditakar dari segi rasa dan tingkat keawetannya saja, melainkan juga dari khasiatnya bagi kesehatan, aspek transparansi, hingga dampak nyata yang ditimbulkan terhadap lingkungan serta publik. 

Perubahan paradigma ini menjadikan nilai tambah sebagai sebuah standar baru bagi para pelaku usaha di industri tersebut.

Dalam rangka merespons dinamika itu, pameran Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia dijadwalkan bakal kembali diselenggarakan pada tanggal 16 hingga 18 September 2026. Perhelatan kali ini mengusung tajuk utama "Elevating Food Standards for a Healthier, Greener Future". 

Tema yang dipilih ini mempertegas komitmen dan fokus Fi Asia Indonesia dalam memacu peningkatan standar mutu, prinsip keberlanjutan, serta daya saing sektor industri makanan dan minuman, baik di ranah domestik maupun di kawasan ASEAN. 

Selama ini, Fi Asia dikenal sebagai wadah strategis yang mempertemukan para pelaku bisnis pangan, inovator, kalangan akademisi, serta pihak regulator untuk membedah tantangan sekaligus tren perkembangan di bidang pangan.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, mengutarakan bahwa optimalisasi standar kualitas pangan kini telah bergeser menjadi sebuah kebutuhan taktis bagi dunia industri.

“Industri makanan dan minuman tidak lagi cukup hanya memenuhi regulasi minimum. Ke depan, pelaku usaha harus secara aktif meningkatkan standar kualitas, keamanan pangan, dan nilai gizi produknya agar dapat menjawab tantangan kesehatan masyarakat sekaligus menjaga daya saing industri,” ujar Adhi dalam keterangan tertulis, Minggu (5/7/2026).

Berdasarkan penilaian Adhi, sinergi yang kokoh antara pelaku usaha, regulator, serta institusi ilmiah menjadi faktor kunci supaya eskalasi standar tersebut dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

 Kerja sama multidimensi ini dirasa mampu mempercepat implementasi standar mutu yang lebih tinggi, sekaligus mengokohkan derajat kesehatan masyarakat dan ketahanan pada sektor pangan.

Upaya peningkatan standar pangan ini pun dirasa kian krusial jika berkaca pada hasil temuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengungkap fakta bahwa konsumsi pangan yang tidak aman masih menjadi pemicu munculnya ratusan juta kasus penyakit di tingkat global setiap tahunnya.

Direktur South East Asia Food and Agriculture Science and Technology (SEAFAST) Center LRI PGKH IPB, Puspo Edi Giriwono, ikut menambahkan bahwa peningkatan mutu serta aspek keamanan pangan wajib diimplementasikan pada setiap lini rantai pasok, mulai dari sektor hulu hingga ke hilir.

“Meningkatkan standar mutu dan keamanan pangan berarti memperkuat kontrol terhadap bahan baku, formulasi, dan proses produksi. Tujuannya bukan hanya memastikan pangan aman dikonsumsi, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi kesehatan, perekonomian, dan perdagangan jangka panjang,” jelas Puspo.

Ia memaparkan bahwa lahirnya inovasi yang berbasis pada pembuktian sains memegang andil penting untuk menaikkan kualitas pangan, sekaligus menumbuhkan rasa percaya di benak konsumen terhadap produk-produk hasil olahan.

“Inovasi yang dilandasi sains yang kuat mendorong dan mendukung teknologi pengolahan yang lebih baik, penggunaan bahan baku yang lebih aman dan unggul, hingga sistem jaminan mutu berbasis data berperan besar dalam menurunkan risiko keamanan pangan sekaligus meningkatkan nilai gizi produk dan memajukan daya saing,” katanya.

Sementara itu, Regional Portfolio Director ASEAN Informa Markets, Rose Chitanuwat, menuturkan bahwa agenda Fi Asia Indonesia 2026 dirancang agar tidak sekadar menjadi ajang pameran niaga biasa. 

Pihak penyelenggara mematok target pergelaran ini akan diikuti oleh 700 merek skala internasional serta dihadiri oleh lebih dari 24.000 peserta.

Menurut Rose, titik kekuatan utama dari Fi Asia Indonesia bersumber pada kapasitas pameran ini dalam menyatukan beragam pemangku kepentingan yang ada ke dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

“Dengan mempertemukan pemimpin industri, inovator, dan pembuat kebijakan, Fi Asia Indonesia mendukung upaya kolektif yang dibutuhkan untuk membangun industri pangan yang lebih sehat, lebih hijau, dan lebih resilien,” ujar Rose.

Eksibisi ini pun memiliki misi untuk menstimulus percepatan adopsi inovasi dalam hal formulasi produk, pemanfaatan bahan baku yang ramah lingkungan, optimalisasi teknologi digital, hingga perumusan sistem pangan yang mengedepankan prinsip kolaboratif.

Di samping itu, Fi Asia Indonesia 2026 dijadwalkan bakal menghadirkan lebih dari 10 paviliun negara (country pavilion).

 Sejumlah negara yang dipastikan ikut ambil bagian pada tahun ini antara lain Kanada, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, serta Uni Eropa. Pameran ini pun menyajikan paviliun khusus (specialty pavilion) yang mengulas seputar Beverage Ingredients, Natural Ingredients, dan New Business.

Sebagai kilas balik, Food Ingredients (Fi) Asia perdana diselenggarakan di kawasan Asia Tenggara pada tahun 1997 dengan Singapura sebagai tuan rumahnya, yang kemudian berlanjut di Thailand pada tahun 2002. 

Indonesia sendiri baru berkesempatan menjadi pelaksana untuk pertama kalinya pada tahun 2010. Saat sekarang, Indonesia dan Thailand memegang kesepakatan untuk bergantian menjadi penyelenggara pameran Fi Asia pada tiap tahunnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index