JAKARTA – Cukup banyak orang tua yang menemui kondisi di mana anak menangis, marah, atau bahkan mengamuk sewaktu gawai diambil. Situasi ini sering kali memicu orang tua untuk mengalah lalu menyerahkan kembali ponsel atau tablet demi menenangkan sang anak. Padahal, tindakan demikian justru bisa mempertegas ketergantungan anak pada gadget.
Psikolog dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Aisyah Almas Silmina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengemukakan bahwa sikap tantrum ketika gawai diambil ialah perkara yang lumrah terjadi, terutama bila anak sudah terbiasa memakai gadget tanpa batasan.
Kendati begitu, orang tua tidak dianjurkan untuk langsung menyerah saat berhadapan dengan kondisi ini. Terdapat sejumlah tindakan yang bisa diterapkan agar anak dapat belajar mengontrol emosinya secara lebih bijak.
Cara Mengatasi Anak Tantrum karena Gadget
Jangan langsung memberikan gadget
Menurut penjelasan Aisyah, salah satu kekeliruan yang kerap dilakukan orang tua ialah langsung mengembalikan gawai begitu anak mulai menangis atau mengamuk.
Tanpa disadari, pola tindakan seperti ini memberikan pembelajaran kepada anak bahwa tantrum ialah langkah yang efektif guna memperoleh apa yang mereka mau.
"Kalau fungsi tantrumnya adalah untuk mendapatkan gadget, jangan sampai setiap kali anak menangis gadget langsung diberikan. Nanti pola itu akan terus terbentuk," jelas Aisyah dalam Talkshow Keluarga Sehat Kementerian Kesehatan, dikutip Kamis (2/7/2026).
Oleh sebab itu, orang tua wajib berkomitmen kuat terhadap regulasi yang sudah disepakati terkait durasi pemakaian gadget.
Tunggu hingga anak lebih tenang
Ketika anak tengah mengalami tantrum, Aisyah menganjurkan orang tua agar tidak terburu-buru mengajak anak berdialog. Biarkan anak menumpahkan emosinya terlebih dahulu sembari tetap mengawasi agar kondisinya aman.
Begitu anak mulai tampak tenang, barulah orang tua bisa mengajaknya berdiskusi seputar apa yang dirasakannya sekaligus menegaskan kembali aturan pemakaian gawai yang sudah disepakati.
Lewat metode ini, anak akan memahami bahwa tiap masalah emosional dapat dituntaskan melalui komunikasi, bukan dengan mendapatkan gawai.
Alihkan perhatian ke aktivitas lain
Menarik gawai tanpa menyediakan opsi kegiatan pengganti juga berisiko membuat anak kian merasa frustrasi. Maka dari itu, Aisyah menyarankan orang tua untuk membelokkan atensi anak pada kegiatan lain yang tidak kalah seru.
Contohnya, mengajak anak bermain ke area taman, menggambar, membikin prakarya, membaca buku dongeng, bermain alat musik, berenang, ataupun menjajal ragam permainan tradisional.
Menurut pandangannya, sewaktu anak mendapati kesibukan lain yang memikat, hasrat untuk terus menggunakan gadget bakal terkikis secara perlahan.
Terapkan aturan secara konsisten
Aisyah menggarisbawahi bahwa sikap konsisten merupakan kunci utama dalam memangkas keterikatan terhadap gadget.
Orang tua bisa merumuskan jadwal harian penggunaan gawai, termasuk mengkhususkan zona tertentu di dalam rumah yang diperbolehkan untuk mengakses gadget, semisal di ruang keluarga.
Sebaliknya, pemakaian gawai sebaiknya dilarang di area kamar tidur ataupun ketika momen makan bersama, agar anak tetap mempunyai waktu untuk bersosialisasi dengan anggota keluarga.
Orangtua juga perlu memberi contoh
Di samping merancang aturan bagi buah hati, orang tua pun dituntut menampilkan kebiasaan menggunakan gawai secara bijaksana. Menurut penilaian Aisyah, anak merupakan sosok peniru yang andal.
Bakal sulit meminta anak membatasi waktu bermain gawai apabila orang tua sendiri terus-menerus terpaku pada ponsel mereka.
Oleh sebab itu, sediakan waktu khusus setiap hari guna bermain, bercengkerama, atau melangsungkan aktivitas bersama anak tanpa adanya intervensi gadget. Lewat cara tersebut, anak belajar bahwa momen kebersamaan dengan keluarga pun bisa menjadi sumber kebahagiaan.
Kapan perlu mencari bantuan?
Jika anak secara kontinu memperlihatkan gejala tantrum yang parah, sulit menjalankan rutinitas tanpa gawai, atau bermacam strategi telah diupayakan namun belum membuahkan hasil, ada baiknya orang tua segera melakukan konsultasi dengan psikolog.
Arahan dari tenaga profesional dapat membantu mengidentifikasi akar perilaku anak sekaligus menyodorkan langkah penanganan yang tepat agar upaya meminimalkan ketergantungan gawai berjalan secara lebih efektif.