Kemenkes Pakai AI untuk Perkuat Deteksi TB di Lapas

Kemenkes Pakai AI untuk Perkuat Deteksi TB di Lapas
Integrasi Rontgen dan AI Percepat Eliminasi TB di Lapas [FOTO: NET].

JAKARTA – Pihak Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa pemanfaatan rontgen dada yang digabungkan dengan analisis kecerdasan buatan (AI) dapat mendeteksi keberadaan kasus tuberkulosis (TB) tersembunyi yang kerap tidak memunculkan gejala klinis. 

Langkah inovatif ini diharapkan mampu meningkatkan proteksi kesehatan, baik bagi para penghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas) maupun warga masyarakat secara luas.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, memberikan penjelasan di Jakarta pada hari Kamis mengenai dinamika data temuan kasus. 

Pada tahun 2023, pembatasan penggunaan rontgen mencatat adanya 6.039 kasus TB atau setara dengan 2,3 persen populasi lapas. 

Angka temuan ini menurun drastis pada 2024 menjadi 2.151 kasus (0,8 persen) ketika proses skrining hanya berpatokan pada kemunculan gejala. 

Namun, begitu metode rontgen kembali dijalankan secara menyeluruh di tahun 2025, angka temuan kasus langsung melonjak signifikan hingga menyentuh 7.972 kasus atau sekitar 3,6 persen.

"Pesannya tegas, cakupan dan kualitas skrining menentukan berapa banyak kasus yang ditemukan. Di lingkungan padat, seperti Lapas, hanya mengandalkan gejala berisiko besar meninggalkan ribuan kasus tak terdiagnosis, yang memperpanjang rantai penularan," kata Imran.

Efektivitas dari metode ini juga telah dibuktikan lewat berbagai riset ilmiah yang dilakukan di kawasan Afrika dan Asia. 

Hasil studi memperlihatkan bahwa hasil pembacaan rontgen yang menggunakan sistem AI terbukti secara konsisten jauh lebih presisi dibandingkan dengan metode pemeriksaan manual, serta memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang jauh lebih tinggi.

"Teknologi ini bukan sekadar pelengkap, melainkan terobosan yang mempercepat deteksi kasus, memperkuat sistem skrining, dan membuka jalan untuk eliminasi TB yang lebih efektif," ujarnya.

Terkait implementasi di lapangan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama dengan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto memantau langsung agenda Kick Off Screening TB di Lapas Nusakambangan, Jawa Tengah, pada 29 Juni 2026. 

Dalam kegiatan tersebut, warga binaan mendapatkan fasilitas pengecekan kesehatan gratis yang meliputi penyaringan gejala, pemeriksaan fisik, hingga foto rontgen dada.

Imran memaparkan bahwa program berskala nasional untuk tahun 2026 ini mempunyai target sasaran sebanyak 321.449 orang, yang mencakup 272.573 warga binaan serta 48.876 petugas yang tersebar di 532 Lapas/Rutan. 

Agenda masif ini diimplementasikan di 375 kabupaten/kota serta melibatkan 33 kantor wilayah, yang membuktikan bahwa program ini dirancang sebagai sebuah gerakan nasional yang matang dan berkelanjutan, bukan sekadar agenda seremonial sesaat.

Menurut pandangannya, situasi riil di Nusakambangan menjadi representasi nyata dari komitmen tersebut. Para warga binaan terlihat tertib mengantre untuk diperiksa, para petugas medis bekerja secara cekatan, serta fasilitas unit rontgen portabel telah disiagakan di area lapas. 

Melalui perpaduan teknologi rontgen dada dan kecerdasan buatan (AI), berbagai kendala dalam proses diagnosis kini dapat dieliminasi.

"Deteksi dini berarti pengobatan lebih cepat, dan pengobatan lebih cepat, berarti rantai penularan dapat segera diputus," katanya.

Imran menekankan bahwa kondisi kesehatan para warga binaan berkaitan erat dengan kondisi kesehatan publik secara menyeluruh. 

Tindakan aktif untuk mendeteksi dan menyembuhkan kasus TB di dalam lingkungan lapas secara tidak langsung menjadi benteng perlindungan bagi para petugas, pihak keluarga, hingga masyarakat luas.

Sebagai catatan penutup, ia menambahkan bahwa keberhasilan jangka panjang dari gerakan ini sangat bertumpu pada aspek konsistensi, terutama dalam penyediaan perangkat diagnostik, sokongan dana yang kontinu, kesiapan tenaga medis yang kompeten, serta mekanisme pengawasan pengobatan yang disiplin.

"Jika semua elemen ini diperkuat, skrining TB berbasis rontgen + AI dapat menjadi model pengendalian TB di Indonesia, membuktikan bahwa teknologi dan kebijakan bersama mampu mempercepat pencapaian tujuan kesehatan publik," ujarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index