JAKARTA – Dampak dari kebiasaan anak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula tambahan secara berlebihan tidak cuma sebatas pada risiko kelebihan berat badan saja.
Dokter spesialis anak memberikan peringatan bahwa paparan cita rasa manis yang diberikan secara terus-menerus juga dapat memengaruhi pembentukan preferensi lidah atau selera makan anak sejak usia dini.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang–Pediatri Sosial, lewat siaran pers yang diterima Kompas.com pada Kamis (2/7/2026).
Menurut pandangannya, orangtua dituntut untuk lebih teliti dalam memperhatikan kandungan gula tambahan ketika menentukan produk nutrisi bagi anak.
Prof. Rini memaparkan, dalam menentukan produk nutrisi tidak boleh sekadar melihat klaim yang dipajang pada bagian depan kemasan saja. Orangtua juga wajib meneliti daftar komposisi guna memahami apa saja bahan utama serta zat tambahan yang terkandung di dalam produk tersebut.
Gula tambahan bisa membentuk preferensi rasa anak
Prof. Rini memberikan peringatan bahwa pemberian gula tambahan pada usia dini harus dikelola dengan bijaksana.
Menurut pandangannya, mengonsumsi gula tambahan terlalu sering tidak hanya berkorelasi pada naiknya risiko kelebihan berat badan serta obesitas, melainkan mampu mengintervensi preferensi rasa anak terhadap makanan.
"Paparan rasa manis yang konstan juga dapat memengaruhi pembentukan preferensi rasa dan kebiasaan makan anak," jelas Prof. Rini.
Ia memaparkan, anak yang sudah terbiasa menyantap makanan atau minuman yang memiliki rasa manis berpeluang lebih menyukai rasa itu ketimbang rasa alami dari jenis makanan lain. Dampaknya, tingkat penerimaan anak terhadap opsi makanan yang sifatnya lebih alami serta seimbang, contohnya sayur, buah, maupun sumber gizi lainnya, bisa menjadi semakin terbatas.
Oleh sebab itu, menurut Prof. Rini, orangtua mesti mengawali kebiasaan menyajikan makanan yang mempunyai komposisi lebih baik sejak dini.
Kenali berbagai nama gula pada label produk
Prof. Rini menyampaikan, salah satu cara ringkas yang dapat diterapkan oleh orangtua yakni melatih diri untuk meneliti daftar komposisi sebelum menebus produk nutrisi untuk anak.
Ia menerangkan bahwa kandungan gula tambahan tidak selalu dituliskan dengan istilah "gula". Di label kemasan produk, zat tersebut bisa muncul dalam bermacam rupa bentuk, misalnya sukrosa, glukosa, fruktosa, sirup jagung, hingga maltodekstrin.
Kendati demikian, Prof. Rini menegaskan bahwa bahan-bahan tersebut berbeda halnya dengan laktosa, yaitu jenis gula alami yang sejatinya sudah terkandung di dalam susu.
Oleh karena itu, orangtua disarankan mengamati jenis bahan yang diaplikasikan, posisi bahan itu dalam urutan daftar komposisi, serta tingkat keseringan produk tersebut dikonsumsi oleh anak.
Bukan hanya mengamati daftar komposisi, informasi nilai gizi juga krusial untuk dicermati secara bersamaan supaya orangtua memperoleh ulasan yang lebih menyeluruh terkait isi produk.
Jangan hanya terpaku pada klaim kemasan
Dalam menentukan produk gizi anak, Prof. Rini memberikan wejangan agar orangtua tidak sekadar bersandar pada klaim yang dipamerkan di area depan kemasan.
Menurut pandangannya, klaim beserta kandungan ekstra yang diunggulkan kerap kali cuma memperlihatkan sebagian kecil dari keseluruhan formula produk.
"Klaim dan kandungan tambahan yang ditampilkan pada kemasan sering kali hanya menggambarkan sebagian kecil dari keseluruhan produk. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada informasi yang ada di bagian depan kemasan, tetapi juga membaca dengan cermat dan memahami komposisi utama produk tersebut," ujar Prof. Rini.
Ia pun menerangkan bahwa urutan penulisan bahan di daftar komposisi dapat menolong orangtua mengenali bahan utama apa yang porsinya paling melimpah di dalam suatu produk.
Di samping itu, orangtua juga dapat mengamati asal bahan serta proses pembuatannya agar mendapat gambaran yang lebih utuh perihal produk yang dibeli.
Di akhir pernyataannya, Prof. Rini menggarisbawahi bahwa tidak ada satu produk pun yang sanggup menggantikan pola makan sehat secara menyeluruh.
"Nutrisi terbaik bagi anak tetap perlu dibangun melalui variasi makanan, pola makan seimbang, dan lingkungan makan yang tepat," ujarnya.
Ia juga mengimbau bahwa Air Susu Ibu (ASI) tetap merupakan sumber pemenuhan gizi terbaik bagi bayi di fase awal kehidupannya.
Sementara untuk pemanfaatan produk nutrisi anak harus diselaraskan dengan umur serta keperluan masing-masing anak, dan bisa dikonsultasikan kepada tenaga medis jika memang diperlukan.