Penyebab Banyak Pemimpin Gagal Saat Stres: Sulit Lepas Pola Lama

Penyebab Banyak Pemimpin Gagal Saat Stres: Sulit Lepas Pola Lama
Kenali Pressure Patterns, Penyebab Pemimpin Gagal Hadapi Tekanan [FOTO : NET].

JAKARTA - Beban tekanan di dalam lingkungan kerja kerap kali diposisikan sebagai ajang pembuktian atas kompetensi yang dimiliki seorang atasan. Walakin, hal yang cukup mengejutkan adalah problem paling masif tidak melulu timbul akibat minimnya tingkat kecakapan ataupun pengalaman kerja. 

Justru di kala berada dalam pusaran kondisi yang penuh dengan tekanan, sebagian besar pemimpin condong berbalik menerapkan pola-pola lama yang sempat membuahkan kesuksesan di masa lampau, kendati strategi pendekatan dimaksud sebetulnya sudah tidak lagi relevan dengan dinamika situasi yang dihadapi pada saat ini.

Fenomena psikologis ini bertransformasi menjadi salah satu topik ulasan utama dalam agenda workshop kepemimpinan yang diselenggarakan oleh jaringan perempuan profesional IGNITE berkolaborasi bersama The Art of Triumph. 

Agenda diskusi tersebut membedah secara mendalam perihal bagaimana rupa tekanan sanggup memengaruhi tata cara seseorang dalam memimpin sekaligus menetapkan sebuah keputusan.

Pemimpin Gagal Bukan Karena Kelemahan Baru

Lea Dwiartanti, selaku Senior Manager of Client Engagement, Marketing, and Social Impact Kearney Indonesia yang juga merupakan mentee dari IGNITE, mengutarakan bahwa salah satu intisari pelajaran paling bernilai yang berhasil ia petik adalah urgensi untuk mengidentifikasi bentuk respons diri di kala bersua dengan tekanan. 

Berdasarkan penjelasan Lea, sosok pemateri di dalam acara workshop tersebut menjabarkan data hasil riset dari Center for Creative Leadership yang memperlihatkan bahwasanya runtuhnya keberhasilan seorang atasan jarang sekali dipicu oleh munculnya rupa kekurangan yang baru.

Saat ”My Little Bolu Ketan” Terus Terngiang-ngiang di Kepala Artikel Kompas.id

"Masalah justru datang ketika mereka stres dan terlalu memaksakan strategi lama yang dulunya sukses, padahal situasi menuntut pendekatan yang berbeda," kata Lea, Senin (15/6/2026).

Kondisi psikologis inilah yang diidentifikasi sebagai pressure patterns atau rupa pola respons otomatis yang bakal mencuat ke permukaan sewaktu seseorang sedang berhadapan dengan situasi tertekan.

Apa Itu Pressure Patterns?

Lea memaparkan bahwasanya pressure patterns sejatinya sudah mulai terbentuk semenjak fase awal perjalanan karier profesional seseorang. Di kala menjumpai tantangan spesifik, seseorang berhasil menemukan metode penanganan yang dinilai mendatangkan keberhasilan. 

Lantaran dipandang efektif pada masa tersebut, pola dimaksud terus-menerus diaplikasikan hingga pada akhirnya mengkristal menjadi sebuah kebiasaan yang bergulir secara mekanis otomatis dan kerap kali tidak disadari secara penuh.

Sisi baiknya, karakteristik pola respons ini sebetulnya dapat diidentifikasi. Menurut pandangan Lea, kian tinggi tingkat kesadaran seseorang terhadap kehadiran pola dimaksud, maka bakal kian mengecil pula dampak destruktif yang dihadirkannya terhadap tata cara memimpin serta merumuskan keputusan.

Mengenali Pola Saat Tertekan

Lea membagikan empat rumusan langkah praktis yang dapat diaplikasikan oleh para pemimpin guna mendeteksi bentuk pola respons mereka di kala dirundung tekanan.

1. Kenali situasi pemicunya 

Datangnya tekanan lazimnya terpicu dalam kondisi-kondisi tertentu, semisal tenggat waktu pengerjaan yang teramat ketat, gesekan konflik, situasi ketidakpastian, ataupun beban tuntutan pekerjaan yang memancarkan visibilitas tinggi. 

Oleh sebab itu, sangat krusial untuk mengidentifikasi rupa kondisi yang paling kerap memicu datangnya stres, bukan sekadar larut memikirkan emosi yang tengah dirasakan.

2. Perhatikan respons otomatis 

Tiap-tiap individu mengantongi kecenderungan bentuk respons yang berlainan di kala berada di bawah kepungan beban tekanan. 

Terdapat tipe yang berubah menjadi terlampau dominan mengontrol, menarik diri dari lingkungan, mengeksekusi tindakan terlampau kilat, atau justru berupaya keras mengakomodasi keinginan segenap pihak.

"Kebanyakan pemimpin memiliki satu pola utama dan satu pola cadangan," ujar Lea.

3. Pahami konsekuensinya

 Berdasarkan penjelasan Lea, masing-masing jenis pola memang sanggup menyodorkan bantuan dalam rentang waktu jangka pendek, walakin memendam potensi melahirkan kerugian yang nyata dalam jangka panjang. 

Langkah yang terlampau mengontrol contohnya, sanggup melahirkan titik kejelasan, namun di sisi lain berisiko mengikis rasa kepemilikan di dalam internal tim. Sementara ritme kerja yang dipacu terlampau cepat boleh jadi menolong dalam mengejar tenggat waktu, tetapi berisiko mengorbankan keselarasan harmonis dari tim kerja.

4. Bangun pilihan respons yang lebih luas 

Target utamanya sejatinya bukan untuk mengeliminasi keberadaan pola lama secara menyeluruh. Alih-alih demikian, seseorang dituntut untuk mendekap lebih banyak opsi variasi dalam menyikapi sebuah situasi.

"Jika pola default kami adalah mempercepat, berlatihlah untuk berhenti sejenak sehingga kami dapat merespons dengan niat, bukan bereaksi karena kebiasaan," kata Lea.

Mulai dari Mendengarkan Sinyal Tubuh

Salah satu metode paling sederhana peruntukan membangun rupa respons baru ialah dengan bersikap lebih peka terhadap kondisi fisik personal. Lea mengutarakan bahwa banyak kalangan berasumsi stres melulu terjadi di dalam ruang pikiran saja. 

Padahal, manifestasi tekanan kerap kali mencuat lebih awal melewati reaksi tubuh, semisal ritme napas yang memendek, kondisi otot bahu yang menegang, ataupun bagian rahang yang mengeras.

Ia memberikan saran untuk mengambil jeda sejenak dalam rentang waktu lima sampai 10 detik sebelum menghadapi momentum-momentum krusial.

"Rasakan tubuh kami, perhatikan bagian mana yang tegang, dan sebutkan itu. Tiga puluh detik adalah perbedaan antara bereaksi dan memilih," ujarnya.

Lewat langkah mendeteksi sinyal fisik tersebut secara lebih dini, seorang individu mengantongi celah kesempatan peruntukan menghentikan jalannya pola respons otomatis sebelum pola dimaksud terlanjur mengambil alih cara berpikir sekaligus bertindak. Bagi segenap pemimpin, kecakapan internal ini sanggup bertindak selaku pilar pembeda antara sekadar bertahan di tengah kepungan tekanan dengan tetap sanggup mengomandoi tim secara efektif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index