JAKARTA - Menjelang perayaan Idulfitri, kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan baru biasanya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tradisi berbagi uang kepada keluarga dan kerabat saat Lebaran membuat permintaan terhadap uang rupiah dalam kondisi baru terus meningkat setiap tahunnya.
Kondisi tersebut juga terlihat pada periode Ramadhan dan Idulfitri tahun 2026 yang menunjukkan antusiasme masyarakat yang sangat tinggi. Banyak warga memanfaatkan layanan resmi penukaran uang untuk memperoleh pecahan baru yang akan dibagikan saat hari raya.
Fenomena ini tercermin dari data yang dihimpun oleh Bank Indonesia terkait aktivitas penukaran uang rupiah menjelang Lebaran. Jumlah masyarakat yang menukar uang baru melalui layanan resmi mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Bank Indonesia (BI) mencatat animo masyarakat menukarkan uang baru selama Ramadhan dan Idul Fitri 2026 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Data tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap uang pecahan baru masih sangat tinggi di tengah masyarakat.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Muh. Anwar Bashori mengatakan, sampai dengan 13 Maret 2026 sebanyak 1.076.282 orang telah menukar uang baru melalui layanan resmi. Jumlah ini menjadi indikator kuat bahwa kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan baru menjelang Lebaran terus meningkat.
Angka tersebut mengalami kenaikan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam aktivitas penukaran uang menjelang hari raya.
Menurut data Bank Indonesia, jumlah tersebut meningkat sekitar 85,4 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Pada tahun sebelumnya, jumlah masyarakat yang menukar uang baru tercatat sebanyak 580.496 orang.
Lonjakan Animo Masyarakat Menjelang Idulfitri 2026
Tingginya angka penukaran uang baru menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat antusias menyambut tradisi Lebaran. Kebiasaan membagikan uang kepada keluarga, anak-anak, serta kerabat masih menjadi bagian penting dari perayaan Idulfitri.
Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Muh. Anwar Bashori menyampaikan bahwa minat masyarakat untuk menukar uang baru tahun ini meningkat cukup tajam. Hal ini terlihat dari jumlah pengguna layanan penukaran yang terus bertambah.
"Animo masyarakat untuk menukarkan uang rupiah menjelang Idul Fitri 2026 sangat tinggi," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Senin, 16 Maret 2026.
Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap memanfaatkan layanan resmi yang disediakan oleh Bank Indonesia. Layanan ini membantu masyarakat mendapatkan uang pecahan baru secara aman dan terjamin keasliannya.
Bank Indonesia juga melihat bahwa peningkatan permintaan uang baru terjadi hampir di berbagai daerah. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi penggunaan uang pecahan baru masih sangat kuat di masyarakat Indonesia.
Selain itu, meningkatnya aktivitas ekonomi selama Ramadhan juga turut memengaruhi tingginya permintaan uang tunai. Banyak transaksi yang masih dilakukan menggunakan uang fisik, terutama dalam kegiatan perdagangan skala kecil.
Perluasan Titik Layanan Penukaran Uang Rupiah
Untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang semakin besar, Bank Indonesia melakukan perluasan layanan penukaran uang. Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan uang pecahan baru.
Pada tahun 2026, jumlah titik layanan penukaran uang rupiah meningkat secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Perluasan ini dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.
Tahun ini jumlah titik layanan penukaran meningkat menjadi 9.294 titik. Angka tersebut meningkat cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 5.202 titik layanan.
Perluasan layanan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengakses layanan penukaran uang dengan lebih mudah. Dengan semakin banyaknya lokasi layanan, masyarakat tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk menukar uang.
Menurut Anwar, perluasan titik layanan ini juga menjadi bagian dari strategi Bank Indonesia untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Layanan tersebut disiapkan agar proses penukaran uang berjalan lebih tertib dan nyaman.
Selain itu, keberadaan layanan resmi juga membantu mengurangi praktik penukaran uang yang tidak resmi di masyarakat. Hal ini penting untuk menjaga keamanan dan keaslian uang yang beredar.
Kebutuhan Uang Pecahan Kecil Masih Sangat Tinggi
Bank Indonesia menilai bahwa tingginya permintaan uang baru berkaitan erat dengan berbagai aktivitas masyarakat selama Ramadhan dan Idulfitri. Banyak kegiatan sosial dan ekonomi yang membutuhkan uang pecahan kecil.
Tradisi berbagi kepada keluarga, kerabat, serta anak-anak menjadi salah satu alasan utama meningkatnya kebutuhan uang pecahan baru. Tradisi ini telah berlangsung lama dan masih terus dipertahankan hingga sekarang.
Menurut Anwar, uang pecahan kecil sangat dibutuhkan masyarakat untuk berbagai keperluan selama Ramadhan dan Lebaran. Hal ini termasuk untuk pemberian tunjangan hari raya serta kegiatan ekonomi lainnya.
"Tingginya animo dan perluasan layanan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan kecil untuk tradisi berbagi, pemberian THR, serta aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idul Fitri masih sangat besar," ucapnya.
Selain digunakan untuk tradisi berbagi, uang pecahan kecil juga banyak digunakan dalam transaksi sehari-hari. Aktivitas perdagangan di pasar tradisional biasanya mengalami peningkatan selama bulan Ramadhan.
Banyak pedagang kecil yang masih mengandalkan transaksi tunai dalam kegiatan usahanya. Oleh karena itu ketersediaan uang pecahan kecil menjadi sangat penting bagi kelancaran aktivitas ekonomi.
Layanan Tambahan Penukaran Uang untuk Pemudik
Selain memperluas titik layanan, Bank Indonesia juga menyiapkan layanan tambahan bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik. Layanan ini dirancang untuk membantu pemudik mendapatkan uang pecahan kecil sebelum tiba di kampung halaman.
Pada 16 Maret 2026 hingga 17 Maret 2026, Bank Indonesia menggelar layanan penukaran tambahan yang diberi nama SERAMBI Peduli Mudik. Program ini menjadi salah satu inovasi layanan yang disiapkan selama periode mudik Lebaran.
Layanan SERAMBI Peduli Mudik diselenggarakan di 55 titik layanan di berbagai lokasi strategis. Lokasi tersebut berada di jalur-jalur yang biasanya dipadati oleh pemudik.
Beberapa lokasi layanan berada di bandara, stasiun kereta api, terminal bus, serta pelabuhan. Selain itu layanan juga tersedia di rest area jalan tol yang sering menjadi tempat persinggahan pemudik.
Melalui layanan ini, pemudik dapat menukar uang pecahan kecil tanpa harus datang ke kantor Bank Indonesia atau perbankan. Hal ini diharapkan dapat mempermudah masyarakat yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Bank Indonesia menyiapkan kuota sekitar 12.000 paket penukaran uang dalam layanan tambahan tersebut. Paket penukaran ini disediakan khusus untuk memfasilitasi kebutuhan pemudik.
Kuota tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat yang ingin membawa uang pecahan kecil saat pulang ke kampung halaman. Uang tersebut biasanya digunakan untuk berbagai kebutuhan selama perayaan Lebaran.
"BI memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah yang cukup dan pecahan yang sesuai melalui berbagai kanal layanan resmi, baik kas keliling, layanan terpadu, maupun perbankan," kata dia.
Imbauan BI Agar Menukar Uang Melalui Layanan Resmi
Di tengah tingginya permintaan uang pecahan baru, Bank Indonesia juga memberikan imbauan penting kepada masyarakat. Masyarakat diminta untuk menukar uang hanya melalui layanan resmi.
Bank Indonesia mengingatkan bahwa penukaran uang melalui jalur resmi memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat. Keaslian uang juga lebih terjamin jika diperoleh melalui layanan resmi.
Dia juga mengimbau masyarakat agar hanya melakukan penukaran uang rupiah melalui layanan resmi BI maupun perbankan guna menjamin keaslian uang serta keamanan transaksi.
Bank Indonesia juga mengingatkan adanya berbagai risiko jika masyarakat menukar uang melalui jalur tidak resmi. Praktik penjualan uang di luar layanan resmi sering kali menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
"Penukaran melalui mekanisme jual beli di luar layanan resmi memiliki berbagai risiko, antara lain keaslian uang tidak terjamin, jumlah uang sulit dipastikan akurat, tidak memiliki perlindungan atau pertanggungjawaban, serta rawan penipuan yang dapat merugikan masyarakat secara finansial," tuturnya.
Risiko tersebut menjadi alasan utama mengapa Bank Indonesia terus mendorong masyarakat menggunakan layanan resmi. Dengan cara ini, masyarakat dapat memperoleh uang yang benar-benar asli dan terjamin.
Selain itu, penggunaan layanan resmi juga membantu menjaga ketertiban dalam proses distribusi uang rupiah. Sistem penukaran yang teratur membuat kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan lebih baik.
Melalui berbagai layanan penukaran yang telah disediakan, Bank Indonesia berharap masyarakat dapat memenuhi kebutuhan uang pecahan baru dengan aman. Upaya ini juga menjadi bagian dari komitmen BI dalam menjaga kelancaran sistem pembayaran selama Ramadhan dan Idulfitri 2026.