JAKARTA - Pemerintah memastikan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) Idul Fitri 2026 akan dilakukan lebih awal. Skema ini ditujukan untuk mendukung daya beli jutaan aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri menjelang Lebaran.
Nilai THR tahun ini meningkat signifikan menjadi Rp55 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp49,4 triliun dan menjadi kabar gembira bagi para pegawai negara.
Skema THR dan Gaji ke-13 ASN
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2025, THR dan gaji ke-13 ASN pusat terdiri atas gaji pokok, tunjangan melekat, serta tunjangan kinerja 100 persen. Pegawai akan menerima hak penuh tanpa pemotongan komponen kinerja.
Untuk ASN daerah, skema pencairan disesuaikan kemampuan fiskal masing-masing pemerintah daerah. Kebijakan ini memberi fleksibilitas agar tetap selaras dengan kondisi keuangan daerah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menyebut pencairan THR dilakukan awal Ramadan untuk mendorong konsumsi masyarakat. Langkah ini diharapkan memacu pertumbuhan ekonomi nasional menjelang Hari Raya.
Dorongan Ekspor dan Target Pertumbuhan 8 Persen
Presiden Prabowo Subianto menekankan komitmen memperkuat ekspor dan menyederhanakan regulasi. Strategi ini dianggap penting untuk menyelaraskan kebijakan ekonomi menghadapi tekanan global.
Sepanjang 2025, ekspor nonmigas tumbuh 7,66 persen. Komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit mentah (CPO) mencatat pertumbuhan 27,94 persen dengan kontribusi 12,73 persen terhadap total ekspor nasional.
Industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 10,77 persen dan pertumbuhan 14,47 persen. Pemerintah optimistis sinergi dengan dunia usaha menjaga tren positif demi mencapai target 8 persen.
Presiden menegaskan pentingnya mengelola sumber daya alam secara realistis untuk kepentingan rakyat. Strategi ini menjadi fondasi untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pemerataan kesejahteraan.
Posisi Utang Pemerintah dan Stabilitas Fiskal
Per 31 Desember 2025, posisi utang pemerintah mencapai Rp9.637,90 triliun. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 40,46 persen, masih dalam batas aman menurut pemerintah.
Dari total utang, Surat Berharga Negara (SBN) mendominasi sebesar Rp8.387,23 triliun atau 87,02 persen. Sisanya berasal dari pinjaman senilai Rp1.250,67 triliun yang dikelola hati-hati untuk menjaga stabilitas fiskal.
Pemerintah menekankan pengelolaan utang dilakukan secara terukur. Langkah ini sekaligus mendukung pengembangan pasar keuangan domestik yang sehat dan berkelanjutan.
Ramadan dan Pariwisata Bergeliat
Menjelang Ramadan 2026, destinasi wisata mencatat lonjakan kunjungan. Candi Prambanan ramai pengunjung saat Festival Prambanan Siwa menyalakan ribuan lampu minyak dalam Festival Dipa.
Festival ini memadukan unsur keagamaan, edukasi, dan ekonomi kreatif. Wakil Menteri Pariwisata Niluh Puspa berharap kegiatan ini mampu menarik wisatawan nusantara dan mancanegara.
Di luar negeri, Kota London menyambut Ramadan dengan instalasi lebih dari 30.000 lampu LED di West End dan Leicester Square. Peresmian dilakukan oleh Wali Kota Sadiq Khan sebagai simbol solidaritas lintas agama dan keberagaman.
Banjir dan Penanganan Darurat di Beberapa Wilayah
Hujan deras memicu banjir di sejumlah wilayah, termasuk Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Genangan setinggi hampir setengah meter merendam akses jalan utama sehingga menimbulkan kemacetan panjang.
Di jalur Pantura Kaligawe Semarang-Demak, Sungai Babon meluap dan menyebabkan ketinggian air mencapai 20–30 sentimeter. Kondisi ini menghambat arus lalu lintas dan menimbulkan penumpukan kendaraan.
Di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, banjir dan longsor memutus jalur Sibolga-Tarutung. Material tanah, batu, dan pohon menutup jalan sehingga kendaraan terpaksa berhenti total dan petugas gabungan melakukan penanganan darurat.
Dengan pencairan THR Idul Fitri 2026 lebih awal, pemerintah berharap konsumsi meningkat. Momentum Ramadan diharapkan menjadi penggerak optimisme nasional di tengah tantangan ekonomi global.