JAKARTA - Di tengah tekanan ekonomi dan tantangan daya beli masyarakat, minat terhadap kepemilikan rumah masih menunjukkan ketahanan.
Skema Kredit Kepemilikan Rumah terus menjadi solusi utama bagi masyarakat dalam mewujudkan hunian impian. Kondisi ini tercermin dari kontribusi KPR terhadap total kredit perbankan nasional yang relatif stabil.
Berdasarkan data pengawasan sektor jasa keuangan per Maret 2025, porsi KPR berada di kisaran 10,16 persen dari total kredit. Angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan pembiayaan perumahan tetap terjaga. Stabilitas ini menjadi indikator penting bagi industri perbankan dan properti.
Situasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kebutuhan akan tempat tinggal masih menjadi prioritas. Meski terdapat berbagai penyesuaian ekonomi, masyarakat tetap menjadikan rumah sebagai kebutuhan jangka panjang. Hal ini mendorong perbankan untuk terus mengembangkan strategi penetrasi KPR.
Persaingan Bank Garap Pasar KPR
Potensi pasar KPR yang besar mendorong perbankan berlomba menghadirkan penawaran kompetitif. Salah satu bank nasional menghadirkan berbagai program menarik untuk memperluas pangsa pasar pembiayaan perumahan. Strategi ini diwujudkan melalui pameran properti berskala besar.
Dalam gelaran BCA Expoversary 2026, ditawarkan suku bunga spesial sebesar 1,69 persen efektif per tahun dengan skema fixed satu tahun. Program tersebut dilengkapi dengan diskon provisi sebesar 50 persen serta potongan asuransi jiwa sebesar 5 persen. Penawaran ini ditujukan untuk meningkatkan minat masyarakat mengajukan KPR.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penetrasi di segmen pembiayaan konsumer. Perbankan melihat bahwa momentum permintaan KPR masih cukup solid. Penawaran kompetitif dinilai efektif untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan perumahan.
Permintaan KPR Dinilai Tetap Stabil
Permintaan Kredit Kepemilikan Rumah memasuki 2026 dipandang masih berada pada tren yang stabil. Optimisme ini muncul seiring dukungan berbagai kebijakan pemerintah. Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah menjadi salah satu faktor pendorong utama.
Kebijakan tersebut dinilai mampu meningkatkan minat masyarakat dalam membeli rumah. Dukungan fiskal memberikan ruang bagi konsumen untuk mempertimbangkan pembelian hunian. Hal ini memberikan sentimen positif bagi sektor properti dan perbankan.
Dalam segmen harga, rumah dengan nilai sekitar Rp2 miliar menjadi yang paling banyak diminati. Hunian pada rentang harga tersebut didominasi oleh tipe residential. Permintaan ini mencerminkan preferensi masyarakat terhadap rumah tinggal untuk jangka panjang.
Rumah Tapak Masih Mendominasi Pilihan
Berdasarkan pola pembelian, tipe rumah tapak masih menjadi pilihan utama konsumen. Hunian jenis landed house mendominasi sekitar 70 persen dari total transaksi pembelian. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mengutamakan rumah dengan lahan sendiri.
Hunian vertikal belum mampu menggeser dominasi rumah tapak secara signifikan. Faktor kenyamanan, ruang, dan nilai investasi menjadi pertimbangan utama konsumen. Preferensi ini turut memengaruhi arah pengembangan proyek properti.
Selain strategi promosi, perbankan juga melakukan seleksi ketat terhadap pengembang. Aspek komitmen dan legalitas menjadi perhatian utama dalam kerja sama pembiayaan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kualitas portofolio KPR.
Kurasi Developer Dan Mitigasi Risiko
Dalam memilih pengembang, perbankan menerapkan analisis yang menyeluruh. Pemeriksaan dilakukan terhadap perizinan, status lahan, serta aspek legal lainnya. Seluruh proyek yang dibiayai dipastikan memenuhi ketentuan hukum.
Pendekatan ini bertujuan untuk melindungi kepentingan konsumen dan bank. Dengan developer yang memiliki legalitas kuat, risiko pembiayaan dapat diminimalkan. Kualitas proyek menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan KPR.
Pada ajang pameran properti, pengunjung dapat mengakses berbagai pilihan hunian. Tercatat 29 pengembang hadir secara langsung dan lebih dari 150 pengembang secara daring. Total proyek yang ditawarkan mencapai lebih dari 360 proyek properti.
Menjaga Kualitas Pembiayaan KPR
Selain memperluas pasar, perbankan juga fokus menjaga kualitas pembiayaan. Strategi mitigasi risiko diterapkan melalui analisis mendalam terhadap calon debitur. Penilaian dilakukan untuk memastikan kemampuan bayar jangka panjang.
Langkah ini penting untuk mencegah terjadinya kredit bermasalah. Kualitas portofolio KPR menjadi prioritas utama dalam pengelolaan pembiayaan. Pendekatan kehati-hatian tetap berjalan seiring ekspansi pasar.
Dengan strategi promosi, seleksi developer, dan mitigasi risiko yang seimbang, KPR diproyeksikan tetap tumbuh berkelanjutan. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan industri perbankan menjadi kunci penguatan sektor properti. Ke depan, pembiayaan perumahan diharapkan terus menjadi penopang stabilitas ekonomi nasional.