JAKARTA -Industri logistik nasional mulai memperkuat strategi menghadapi lonjakan pengiriman paket menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Sektor e-commerce dan retail diprediksi menjadi penggerak utama kenaikan volume, seiring meningkatnya daya beli masyarakat untuk kebutuhan Lebaran.
Kebutuhan masyarakat meliputi makanan, minuman, pakaian, aksesori, hingga hampers Lebaran. Lonjakan ini menuntut kesiapan armada, tenaga kerja, dan infrastruktur logistik agar distribusi tetap lancar.
Kesiapan Perusahaan Jasa Pengiriman Menyambut Peak Season
Ketua Umum Asperindo, Budiyanto Darmastono, menyatakan pelaku industri telah memulai persiapan jauh hari. Kesiapan mencakup penambahan armada, penguatan jaringan distribusi, dan perekrutan SDM tambahan.
“Tren peak season selalu berulang setiap tahun. Karena itu, perusahaan jasa pengiriman sudah meningkatkan kapasitas sejak awal, baik dari sisi armada, SDM, maupun jaringan distribusi,” ujar Budiyanto.
Asperindo memproyeksikan volume pengiriman Ramadan tahun ini meningkat sekitar 10–20% dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, sejumlah tantangan tetap muncul, seperti kepadatan lalu lintas saat mudik dan potensi cuaca ekstrem.
Hujan deras di beberapa wilayah berpotensi memperlambat pengiriman. Oleh karena itu, koordinasi dengan pemerintah dan regulator terus dilakukan, terutama terkait kebijakan lalu lintas dan kelancaran infrastruktur.
Strategi Perusahaan Logistik dalam Mengantisipasi Lonjakan
Perusahaan jasa pengiriman mulai memanfaatkan data historis untuk memetakan lonjakan permintaan. Komisaris J&T Express, Iwan Senjaya, mengatakan strategi ini meliputi penambahan shift malam dan perekrutan pekerja musiman.
“Dengan merekrut pekerja musiman, menambah shift malam, serta mengoptimalkan pusat sortir agar distribusi lebih efisien,” kata Iwan, Sabtu, 31 Januari 2026.
J&T mencatat lonjakan volume lebih dari 40% dibanding bulan sebelumnya pada Ramadan tahun lalu. Tren belanja e-commerce yang terus meningkat membuat perusahaan optimistis volume pengiriman tahun ini akan melampaui Januari 2026.
Sementara itu, JNE memproyeksikan pertumbuhan pengiriman Ramadan 2026 mencapai 20–30%. Lonjakan didorong sektor fesyen, makanan-minuman, dan kebutuhan rumah tangga yang meningkat menjelang Idulfitri.
Untuk menjaga ketepatan waktu, JNE menerapkan distribusi multimoda melalui jalur darat, udara, dan laut. Pemantauan berbasis teknologi juga diterapkan agar layanan tetap andal selama puncak pengiriman.
Dampak Lonjakan Pengiriman bagi Infrastruktur dan SDM
Peningkatan volume pengiriman memicu kebutuhan penambahan armada dan gudang sementara. Hal ini sekaligus menuntut perusahaan untuk mempekerjakan tenaga kerja musiman dalam jumlah signifikan.
Perusahaan juga melakukan penyesuaian jam operasional dan shift kerja. Langkah ini diambil agar pengiriman tetap tepat waktu meski terjadi kepadatan lalu lintas dan volume paket yang tinggi.
Koordinasi dengan pemerintah terkait pengaturan lalu lintas menjadi salah satu kunci kelancaran. Infrastruktur jalan dan fasilitas distribusi juga harus mendukung peningkatan kapasitas logistik yang terjadi secara musiman.
Pemanfaatan Teknologi untuk Efisiensi Distribusi
Teknologi menjadi elemen penting dalam menjaga keandalan pengiriman. Pemanfaatan sistem pemantauan berbasis data dan algoritma distribusi membantu perusahaan meminimalkan keterlambatan.
Selain itu, pemetaan rute pengiriman secara real-time mempermudah alokasi armada. Hal ini memungkinkan perusahaan menyesuaikan distribusi dengan kepadatan lalu lintas atau cuaca ekstrem.
Digitalisasi juga diterapkan untuk mempermudah manajemen inventori dan tracking paket. Dengan demikian, pelanggan dapat memantau status pengiriman secara langsung dan perusahaan dapat menjaga kepuasan konsumen.
Optimisme Pertumbuhan Logistik Selama Ramadan 2026
Meski menghadapi tantangan, perusahaan logistik optimistis dapat memenuhi permintaan. Data historis menunjukkan tren pengiriman meningkat signifikan setiap Ramadan, sehingga strategi yang tepat dapat meminimalkan hambatan.
Volume pengiriman yang meningkat diproyeksikan mendukung pertumbuhan sektor logistik nasional. Industri ini juga berperan menjaga kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat menjelang Hari Raya.
Kesimpulannya, kesiapan armada, penambahan tenaga kerja, optimasi infrastruktur, dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci sukses industri logistik menghadapi Ramadan dan Idulfitri 2026. Dengan strategi yang matang, pengiriman paket dapat tetap lancar meski menghadapi lonjakan permintaan yang signifikan.