JAKARTA - Kelancaran distribusi barang menjadi fondasi penting dalam menjaga daya saing ekonomi nasional.
Setiap kebijakan transportasi memiliki dampak langsung terhadap efisiensi rantai pasok. Karena itu, pengaturan operasional angkutan barang perlu ditinjau secara komprehensif.
Pembatasan operasional truk sumbu tiga pada momen hari besar keagamaan selama ini bertujuan mengurai kemacetan. Namun kebijakan tersebut justru memunculkan konsekuensi lanjutan di sektor logistik. Para pakar menilai dampaknya meluas hingga kinerja logistik nasional.
Isu ini kembali mengemuka seiring menurunnya posisi Indonesia dalam pemeringkatan logistik global. Penurunan tersebut dinilai mencerminkan tantangan struktural yang belum terselesaikan. Kebijakan pembatasan truk menjadi salah satu faktor yang disorot.
Posisi Indonesia dalam Peta Logistik Global
Data pemeringkatan logistik menunjukkan posisi Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara kawasan. Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 139 negara dalam indeks logistik dunia. Capaian tersebut dinilai belum mencerminkan potensi ekonomi nasional.
Pakar Logistik Universitas Logistik dan Bisnis Internasional, Dodi Permadi, menilai peringkat tersebut masih rendah. Ia membandingkan Indonesia dengan negara Asia Tenggara lain yang berada di posisi lebih baik. Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam dinilai lebih unggul.
Menurut Dodi, kondisi ini menandakan layanan logistik nasional belum optimal. Berbagai hambatan struktural masih memengaruhi kinerja distribusi barang. Evaluasi kebijakan dinilai menjadi langkah penting untuk perbaikan.
Makna dan Komponen Indeks Logistik
Indeks logistik merupakan alat perbandingan kinerja logistik antarnegara. Instrumen ini memberikan gambaran tantangan dan peluang sektor logistik perdagangan. Penilaian dilakukan untuk membantu perumusan kebijakan yang tepat.
Penentuan indeks dilakukan berdasarkan enam komponen utama. Komponen tersebut meliputi kepabeanan, infrastruktur, pengiriman internasional, kualitas layanan, pelacakan, dan ketepatan waktu. Keenam aspek ini saling berkaitan dalam sistem logistik nasional.
Setiap komponen mencerminkan efisiensi dan keandalan layanan logistik. Ketimpangan pada satu aspek dapat memengaruhi skor keseluruhan. Karena itu, kebijakan transportasi menjadi faktor krusial.
Perubahan Skor dan Dimensi Penilaian
Dodi mengungkapkan indeks logistik Indonesia mengalami penurunan signifikan. Peringkat turun dari posisi 46 menjadi 63 dengan skor menurun dari 3,15 menjadi 3,0. Penurunan ini terjadi dalam rentang beberapa tahun.
Dari enam dimensi, dua aspek mengalami peningkatan. Dimensi kepabeanan naik dari 2,7 menjadi 2,8, sementara infrastruktur naik dari 2,895 menjadi 2,9. Kenaikan ini menunjukkan adanya perbaikan terbatas.
Namun empat dimensi lainnya justru mengalami penurunan. Penurunan terbesar terjadi pada ketepatan waktu dan pelacakan. Kondisi ini menekan performa logistik secara keseluruhan.
Dampak Pembatasan Truk Sumbu Tiga
Menurut Dodi, salah satu penyebab penurunan tersebut adalah pembatasan truk sumbu tiga. Kebijakan ini diberlakukan pada masa libur hari besar keagamaan. Durasi pembatasan dinilai terlalu panjang.
“Dan salah satu faktor yang menyebabkan penurunan tersebut adalah pembatasan-pembatasan yang dilakukan terhadap truk sumbu 3 pada saat libur hari-hari besar keagamaan itu. Apalagi itu dilakukan dalam waktu yang terlalu lama,” ujarnya. Kebijakan ini memengaruhi ketepatan waktu pengiriman.
Larangan tersebut juga berdampak langsung pada biaya logistik. Ketika truk besar dilarang, pelaku usaha beralih ke truk lebih kecil. Akibatnya, kapasitas muatan berkurang.
Kenaikan Biaya dan Efisiensi Angkutan
“Kalau misalkan truk sumbu tiga dilarang, berarti mereka menggunakan truk sumbu dua yang lebih kecil. Artinya, pasti ada pengurangan kapasitas muatan dan itu akan menaikkan ongkos logistiknya,” katanya. Rasio muatan terhadap berat kendaraan menjadi tidak optimal.
Penggunaan truk lebih kecil menyebabkan jumlah ritase meningkat. Konsumsi bahan bakar juga ikut bertambah. Kondisi ini memperbesar beban biaya operasional.
Menurut Dodi, truk besar lebih efisien dari sisi rasio muatan. Pengalihan moda angkut justru menurunkan produktivitas distribusi. Efisiensi logistik pun tergerus.
Temuan Studi dan Dampak Ekonomi
Ia mengungkapkan sejumlah studi mendukung temuan tersebut. Pengalihan dari truk sumbu tiga ke sumbu dua meningkatkan biaya angkut per kilometer. Kenaikannya berkisar antara 20 hingga 50 persen.
“Apalagi kalau ditambah dengan daerah-daerah macet. Meskipun menggunakan kendaraan kecil, pasti biaya logistiknya tetap naik,” ucapnya. Faktor kemacetan memperparah kondisi biaya.
Penelitian terdahulu juga menunjukkan tren serupa. Biaya logistik meningkat lebih dari 40 persen per kilometer. Dampaknya dirasakan secara luas.
Implikasi Terhadap Daya Saing Nasional
“Kenaikan biaya logistik ini pasti berdampak cukup besar terhadap ekonomi. Daya saing kita bisa menjadi lebih lemah terhadap produk-produk luar,” tuturnya. Biaya tinggi menekan daya saing industri nasional.
Dari sisi makro, kemampuan bersaing Indonesia masih menghadapi tantangan. Penilaian daya saing global menunjukkan sejumlah kelemahan struktural. Lingkungan usaha membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten.
Empat faktor utama dinilai dalam pemeringkatan daya saing. Faktor tersebut mencakup kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur. Perbaikan logistik menjadi bagian penting dari upaya tersebut.