ASDP Minta Maaf Imbas Antrean Panjang di Lintas Ketapang-Gilimanuk

Kamis, 25 Juni 2026 | 19:58:31 WIB
Antrean Ketapang-Gilimanuk Mengular, ASDP Sampaikan Permohonan Maaf [FOTO: NET].

JAKARTA - Manajemen PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melayangkan permohonan maaf sehubungan dengan terjadinya penumpukan antrean armada kendaraan selama berhari-hari di jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk semenjak akhir pekan yang lalu.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo memaparkan bahwa pihaknya sangat memaklumi masifnya keperluan mobilitas warga sepanjang masa liburan sekolah, berikut rasa kurang nyaman yang dipicu oleh adanya kepadatan arus lalu lintas di kawasan Pelabuhan Ketapang.

“Untuk itu, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pengguna jasa atas kondisi yang terjadi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).

Menurut penjelasan Heru, sumbatan kepadatan mulai nampak sejak Minggu (21/6/2026) akibat perpaduan antara lonjakan kuantitas kendaraan di musim libur sekolah serta kendala operasional yang dipicu oleh faktor cuaca ekstrem di perairan Selat Bali. 

Akselerasi kecepatan angin bertambah serta tingginya alun gelombang, khususnya di kala malam hari, memaksa proses bongkar muat muatan kapal disesuaikan demi memelihara aspek keselamatan pelayaran.

Pada waktu yang bersamaan, kapasitas kendaraan yang hendak menyeberang melesat sangat tajam. Pada Minggu (21/6/2026), total unit kendaraan yang ditangani menembus angka 9.571 unit atau naik sebesar 23% dari torehan hari sebelumnya yang berada di angka 7.769 unit. 

Lonjakan paling dominan dipicu oleh kelompok kendaraan pribadi roda empat yang merangkak naik 30%, dari semula 1.681 unit melonjak jadi 2.188 unit. 

Keadan ini kian pelik lantaran munculnya kendala teknis operasional pada dua armada kapal Long Distance Ferry (LDF) milik PT ALP, yang berujung pada dialihkannya muatan kendaraan logistik ke armada kapal reguler.

Pihak ASDP mendeteksi buntut antrean kendaraan yang mengular ke Pelabuhan Ketapang sempat menyentuh jarak kisaran lima kilometer pada Rabu (24/6/2026). 

Kendati demikian, menilik pantauan sistem aplikasi peta digital pada Kamis (25/6/2026) siang, situasi kepadatan arus lalu lintas di area sekitar pelabuhan dilaporkan mulai berangsur normal.

Guna mengurai kemacetan, ASDP memacu utilitas operasional seluruh fasilitas dermaga serta armada kapal yang disiagakan. 

Dermaga Moveable Bridge (MB) dikerahkan lewat dukungan 30 armada kapal, sedangkan sektor Dermaga Bulusan ditopang oleh suplai tambahan dari KMP Portlink VII. 

Di samping itu, satu armada kapal di bagian dermaga Landing Craft Machine (LCM) dijalankan menggunakan pola full TBB (Tiba–Bongkar–Berangkat) untuk memacu kecepatan pergerakan truk logistik.

ASDP juga memfungsikan KMP Prathita di area dermaga ponton demi menyokong pelayanan penyeberangan sepeda motor yang kuantitasnya meningkat sepanjang musim liburan. 

Manajemen perusahaan turut mendahulukan pelayanan bagi sektor kendaraan pribadi serta bus demi memelihara kelancaran mobilitas publik selama masa libur anak sekolah.

Di waktu sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo mengutarakan bahwa antrean kendaraan pengangkut logistik yang mengarah ke Pulau Bali sempat memakan waktu tunggu hingga 11 jam, berbanding jauh dari durasi normal yang biasanya hanya berkisar dua jam saja. 

Menurut pandangannya, problem fundamental di jalur Ketapang–Gilimanuk sejatinya bukan dipicu oleh minimnya kuantitas armada kapal, melainkan akibat terbatasnya daya tampung fasilitas dermaga.

“Permasalahan utama yang dihadapi saat ini bukan kekurangan armada kapal, melainkan keterbatasan jumlah dermaga,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).

Khoiri mengimbuhkan bahwa pihak Gapasdap sudah berulang kali menjajakan usulan terkait langkah percepatan perluasan jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, termasuk opsi mendirikan pelabuhan alternatif di wilayah Bali serta pemisahan alur pelayanan antara armada kendaraan berat dengan kendaraan kecil. 

Walau cetak biru tersebut sempat diwacanakan oleh pihak pemerintah, namun hingga detik ini belum ada tindak lanjut riil yang diwujudkan di lapangan.

Terkini