JAKARTA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) kini mempertegas inisiatif pemilahan sampah dan pembuatan biopori sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta.
"Alhamdulillah, di Kantor Wali Kota Jakarta Timur ini, sesuai dengan perencanaan sebelumnya bahwa HUT DKI Jakarta diawali dengan rangkaian kegiatan pilah sampah," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Senin.
Ia menjelaskan bahwa di area Kantor Wali Kota Jakarta Timur telah tersedia tempat sampah khusus untuk membedakan sampah organik dan anorganik.
Hal ini dilakukan agar pengelolaan limbah lebih optimal, di mana material seperti botol plastik, kardus, dan kertas dipilah berdasarkan jenisnya guna mempermudah proses pengumpulan serta daur ulang.
Gerakan ini melibatkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Jakarta Timur untuk menciptakan budaya hidup bersih yang berkelanjutan.
Menurut Munjirin, langkah tersebut bertujuan mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, sekaligus meningkatkan kesadaran publik mengenai krusialnya pengelolaan sampah dari sumbernya.
Selain itu, Pemkot Jaktim juga membuat sejumlah biopori jumbo di area perkantoran sebagai sarana pengolahan sampah organik sekaligus meningkatkan daya serap air pada tanah.
"Area Kantor Wali Kota yang luas ini juga kami buat biopori-biopori jumbo sehingga bermanfaat," ucap Munjirin.
Sebelumnya, Pemkot Jakarta Timur telah memanfaatkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan biopori untuk mengelola sampah guna menekan beban di TPST Bantargebang.
"Kami optimistis pengembangan maggot BSF, komposter, dan biopori dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan di masyarakat," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Rabu (10/6/2026).
Ia menuturkan bahwa pengelolaan sampah organik harus diprioritaskan karena mayoritas sampah rumah tangga berasal dari sisa makanan dan dedaunan. Jika tidak segera diolah di sumbernya, jumlah sampah ke TPST Bantargebang akan terus melonjak.
Salah satu inovasi yang menonjol adalah Program Biopori Jumbo di RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa. Sebanyak 150 titik biopori telah melayani sekitar 300 rumah warga.
Dengan metode ini, sampah organik dapur diolah langsung menjadi kompos di lingkungan warga dan tidak perlu lagi dikirim seluruhnya ke tempat pengolahan akhir.