Kemenperin Dorong Kontribusi IKM Pangan Lewat Program IFI 2026

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:12:32 WIB
Lewat Program IFI 2026, Kemenperin Pacu Kontribusi IKM Pangan [FOTO : NET].

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memacu eskalasi kontribusi industri kecil dan menengah (IKM) pangan bagi perekonomian nasional lewat pelaksanaan program pembinaan tahunan Indonesia Food Innovation (IFI) 2026.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita di Jakarta, Rabu, mengutarakan bahwa agenda pembinaan tahunan tersebut dikonsentrasikan guna memperkokoh kecakapan IKM dalam memproduksi produk antara (intermediate product).

Menurut penjelasannya, pengembangan produk antara bertindak sebagai strategi krusial untuk memperkuat daya saing IKM pangan. 

Reni mengimbuhkan, terdapat empat landasan utama yang memosisikan produk antara layak dijadikan fokus eskalasi.

Pertama, intermediate product sanggup menghadirkan nilai tambah yang kian tinggi. Kedua, metode pengolahannya dapat memperpanjang masa kedaluwarsa bahan pangan sekaligus memangkas angka foodwaste.

Ketiga, intermediate product mempunyai keterbukan akses menuju pasar B2B yang kian luas serta berkelanjutan, dan keempat, produk jenis ini bertindak sebagai basis bagi penciptaan bermacam inovasi produk hilir yang memiliki nilai ekonomi kian tinggi.

"Oleh karena itu, penguatan kapasitas IKM dalam menghasilkan produk antara menjadi langkah penting untuk memperkuat struktur industri pangan nasional," kata Reni.

Pengembangan produk antara yang bersumber dari daya lokal selaras dengan penerapan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 perihal Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal, tambahnya.

Sebagai wujud sokongan atas regulasi itu, Reni menyatakan pihaknya bersama dengan Badan Pangan Nasional pada masa sekarang sedang merumuskan draf kebijakan insentif untuk pengembangan sistem pangan yang berbasis sumber daya serta kearifan lokal.

Insentif yang dikondisikan meliputi kelancaran akses permodalan, subsidi sektor teknologi, akselerasi sertifikasi, fasilitasi akses pasar business to business, hingga sokongan standardisasi produk.

Di sisi lain, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita lewat pernyataan tertulisnya menuturkan bahwa sektor industri pangan mengemban andil strategis dalam mengawal pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkokoh ketahanan pangan.

Oleh sebab itu, penataan industri pangan mesti dijalankan tidak sekadar untuk produk konsumsi akhir saja, melainkan mencakup pula industri hulu serta produk antara yang memosisikan diri sebagai fondasi rantai pasok industri pangan.

Merujuk data Menperin, industri pengolahan tetap bertindak sebagai penggerak utama ekonomi nasional dengan sumbangsih menyentuh 19,10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di triwulan I 2026 dan menorehkan pertumbuhan 5,04 persen.

Dari segenap sektor manufaktur, industri makanan dan minuman menjelma sebagai penyumbang paling masif dengan porsi 36,6 persen serta mencatatkan nilai ekspor menyentuh 3,16 miliar dolar AS pada Maret 2026.

Di samping itu, sektor IKM masih menempati posisi sebagai fondasi anatomi industri nasional. Kuantitas IKM menyentuh 99,7 persen dari keseluruhan unit bidang usaha industri di Indonesia sekaligus menyerap di atas 65 persen pekerja sektor industri. 

Spesifik untuk IKM pangan, jumlahnya menyentuh kisaran 2,07 juta unit usaha atau setara dengan 46,63 persen dari total IKM nasional.

Walau mempunyai kuantitas yang besar, Kemenperin mengonfirmasi jika sebagian IKM pangan masih menemui bermacam kendala, berkisar dari keterbatasan sumber daya, belum terpenuhinya aspek standardisasi serta legalitas usaha, keterbatasan dalam inovasi produk, hingga fluktuasi suplai bahan baku serta dinamika perubahan permintaan pasar.

Sementara itu, Direktur Industri Pangan, Furnitur, dan Bahan Bangunan Kemenperin Afrizal Haris mengutarakan bahwa program IFI yang sudah digulirkan semenjak 2020 bertindak selaku salah satu program unggulan dalam pembinaan IKM pangan.

Sampai dengan saat ini, pergelaran itu sudah diikuti oleh lebih dari 2.000 IKM pangan yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia lewat kategori pengembangan produk akhir (end product) serta produk antara (intermediate product).

Terkini