Schneider Electric Hadirkan Solusi Data Center Sambut Era AI

Selasa, 16 Juni 2026 | 00:17:01 WIB
Sambut Era AI Factory, Schneider Siapkan Solusi Data Center [FOTO : NET].

JAKARTA - Alih rupa digital yang dipacu oleh kecerdasan buatan (AI) membuka peluang yang lapang bagi Indonesia. Berbekal kisaran 287 juta warga beserta 235 juta pengguna internet, tuntutan terhadap infrastruktur digital konsisten merangkak naik.

Menyandarkan pada data Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO), keseluruhan kapasitas data center colocation dan hyperscale yang aktif bekerja hingga kuartal kesatu 2026 menyentuh 637,24 megawatt, disertai rencana ekspansi berkisar 1,65 gigawatt di sepanjang tahun ini.

Zaman AI mendatangkan tantangan anyar yang kian rumit. Workload berbasis AI menuntut kapasitas komputasi yang jauh kian tinggi bila disandingkan dengan beban kerja konvensional.

 Schneider Electric mengalkulasikan penyerapan energi AI menanjak dari 4,3 gigawatt di tahun 2023 menuju 13,5 hingga 18 gigawatt pada tahun 2028, sementara porsi AI terhadap penyerapan daya data center diproyeksikan merangkak naik dari 8% menuju 15 hingga 20%.

Kecenderungan ini memacu evolusi data center mengarah ke konsep AI factory, yaitu infrastruktur komputasi dalam skala masif yang dirancang secara menyeluruh semenjak fase rancangan sampai perawatan. 

International Data Corporation (IDC) memproyeksikan 65% dari 2.000 korporasi paling besar di Asia Pasifik bakal mengoperasikan AI factory selaku infrastruktur inti pada tahun 2028.

Imbasnya kentara pada meroketnya densitas rak. Sistem yang mulanya memakai 72 GPU dapat melebar menjadi 288 GPU, sehingga keperluan distribusi pasokan daya menanjak dari kisaran 150 kilowatt menuju 1.000 kilowatt per rak. Metode pendinginan konvensional bertumpu udara pun perlu dilengkapi struktur pendinginan yang kian akurat.

"AI menuntut data center berpikir lebih jauh dari sekadar kapasitas. Yang dibutuhkan adalah kemampuan merancang infrastruktur yang dapat mengalirkan daya secara aman, membuang panas secara presisi, dan memberikan visibilitas operasional secara real time. Bagi Indonesia, kesiapan ini penting agar pertumbuhan ekonomi digital tidak hanya cepat, tetapi juga efisien, andal, dan berkelanjutan," ujar Ellya Cen, Business Vice President Data Center Schneider Electric Indonesia.

Schneider Electric menyuguhkan portofolio end-to-end yang mencakup liquid cooling, air cooling, Coolant Distribution Unit (CDU), sistem pembuangan hawa panas, high-performance chillers, hingga sistem daya mulai dari medium voltage, Uninterruptible Power Supply (UPS), Power Distribution Unit (PDU), busway, serta Battery Energy Storage System (BESS).

Korporasi pun meluncurkan HVDC 800V Power Sidecar, arsitektur 800VDC yang dirancang guna menyokong penyaluran daya berskala megawatt bagi rak AI generasi masa depan, sekaligus meminimalkan gangguan pada infrastruktur berbasis AC yang telah terpasang.

Dari aspek peranti lunak, perusahaan menyuguhkan Building Management System (BMS), EcoStruxure IT, serta solusi digital twin dari AVEVA guna mengatrol visibilitas performa operasional di seantero siklus hidup data center.

Melalui aksi korporasi akuisisi Motivair pada Februari 2025, Schneider Electric memperlebar kapabilitas liquid cooling lewat jam terbang melampaui 10 tahun dan kapasitas di atas 4 gigawatt yang telah diaplikasikan, termasuk mendinginkan enam dari sepuluh superkomputer paling cepat di dunia. Korporasi pun menjalin kolaborasi bersama NVIDIA dalam penyusunan reference design bagi AI data center, serta ditunjang teknisi lokal yang mengantongi sertifikasi liquid cooling di Indonesia.

Terkini