Gowes Keliling Asia, Pesepeda Iran Arezoo Sebarkan Pesan Damai

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:53:31 WIB
Pesepeda asal Iran, Arezoo Eskandari (35) [FOTO : NET].

JAKARTA – Seorang pesepeda berkebangsaan Iran, Arezoo Eskandari (35), tengah melakukan perjalanan lintas negara di Asia guna mengampanyekan pesan perdamaian sekaligus persahabatan antarbangsa.

 Pada Minggu (14/6/2026), Arezoo menyempatkan diri untuk mengayuh sepeda bersama sejumlah kelompok pesepeda lokal di Jakarta. Rute gowesnya kali ini melewati beberapa koridor utama ibu kota, mulai dari area Sudirman, wilayah Kota Tua, hingga kawasan Cikini.

Arezoo menuturkan bahwa pengembaraan yang ia rintis sejak Desember 2025 tersebut bukan sekadar bertujuan pelesiran ke aneka negara. 

Lebih dari itu, ia memikul misi untuk menebarkan energi kebahagiaan serta pesan damai kepada setiap warga yang ia jumpai di sepanjang rute perjalanannya.

"Pesan yang saya bawa dari Iran adalah kebahagiaan dan perdamaian untuk masyarakat Asia. Slogan perjalanan saya adalah Slow Life," kata Arezoo kepada Kompas.com, Minggu.

Menurut cara pandang Arezoo, konsep Slow Life tersebut mengajak tiap individu untuk lebih mengapresiasi dan menikmati kehidupan tanpa mesti terus-menerus dirundung kecemasan soal materi ataupun hari esok.

"Slow Life berarti jangan terlalu memikirkan uang atau masa depan. Nikmati saja hidup saat ini dan jalani setiap momen dengan bahagia," ujarnya.

Arezoo mengawali petualangannya ini kurang lebih tujuh bulan silam dengan titik keberangkatan dari China. Setelah meninggalkan negara tersebut, ia berturut-turut menjelajahi Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, hingga akhirnya menapakkan kaki di Indonesia pada Sabtu (6/6/2026). Secara akumulatif, Arezoo telah menempuh perjalanan sejauh 8.000 kilometer di atas sadel sepeda kesayangannya.

"Saya berasal dari Iran. Perjalanan ini saya mulai tujuh bulan lalu. Saya bersepeda dari China, lalu melintasi Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan sekarang berada di Indonesia," kata dia.

Kendati demikian, Arezoo menyatakan bahwa Indonesia bukanlah destinasi pamungkas dari rangkaian petualangannya. Sesudah merampungkan agenda di sini, ia masih dijadwalkan untuk menyambangi beberapa negara lainnya sebelum akhirnya bertolak pulang ke Iran.

"Setelah dari Indonesia, saya berencana melanjutkan perjalanan ke India, Pakistan, Nepal, lalu menuju Turki sebelum kembali ke Iran. Target saya adalah berkeliling Asia selama satu tahun," ujarnya.

Berdasarkan pengamatan Kompas.com di lapangan, figur Arezoo tampak begitu menyita perhatian publik di tengah kepungan rombongan pesepeda lokal yang mendampinginya keliling Jakarta.

 Ia tampak mengenakan kaus olahraga bernuansa hijau, putih, dan merah, yang merupakan representasi dari warna bendera nasional Iran. Perlengkapan berkendaranya disempurnakan dengan helm berkelir putih serta celana panjang khusus pesepeda berwarna gelap.

Sepeda yang dikayuh Arezoo terlihat telah mendapatkan sentuhan modifikasi khusus agar tangguh untuk melakoni perjalanan jarak jauh. Pada bagian kiri dan kanan sepedanya tampak terpasang beberapa tas berukuran besar (pannier) berwarna hitam guna memuat pelbagai logistik. 

Tas pelengkap lainnya juga disematkan pada area setang depan, di samping gawai navigasi yang menempel di bagian kemudi. Beban muatan yang dibawa Arezoo terbilang cukup masif, yakni berkisar 60 kilogram, yang mencakup peralatan bersepeda, pakaian ganti, hingga bekal harian selama di jalan.

Hal lain yang menarik pandangan mata adalah adanya enam bendera berukuran mini yang berkibar di sepedanya. Bendera-bendera tersebut melambangkan negara-negara yang telah ia seberangi selama masa pengembaraan, yaitu China, Vietnam, Laos, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Di sisi buritan sepeda, terpasang pula bendera Iran yang senantiasa menemaninya sepanjang jalan.

Di sepanjang rute, Arezoo terlihat beberapa kali melempar sapaan hangat kepada sesama pengguna jalan maupun warga sekitar. sesekali ia juga menyempatkan diri berhenti sejenak demi melayani ajakan berfoto bersama. Guratan senyum ramah tak pernah lepas dari wajahnya.

Selama mengarungi perjalanan antarnegara, Arezoo tidak menampik adanya rentetan hambatan yang mesti dihadapinya. Salah satu persoalan yang paling kerap muncul adalah keterbatasan dalam berkomunikasi akibat perbedaan bahasa.

 Kendati begitu, kendala tersebut tak lantas mematahkan semangatnya untuk tetap menjalin interaksi dengan warga lokal di setiap wilayah yang ia datangi. Ia mengaku sangat terkesan oleh kehangatan dan keramahan yang ditunjukkan masyarakat Indonesia selama dirinya menetap di Jakarta.

"Saya sudah berada di Jakarta selama 10 hari. Orang-orang di sini sangat ramah dan hangat. Mereka selalu menyapa saya selama perjalanan. Saya sangat menikmati waktu bersama masyarakat Indonesia," ujarnya.

Usai menuntaskan kunjungannya di Jakarta, Arezoo menjadwalkan diri untuk melanjutkan gowes menuju Pulau Dewata, Bali. Perjalanan ke timur tersebut diestimasikan bakal memakan waktu kurang lebih satu bulan penuh.

"Setelah ini, saya berencana melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Bali. Mungkin perjalanan itu akan memakan waktu sekitar satu bulan. Terima kasih," ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Konselor Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Yahya Jahangiri, menyampaikan bahwa agenda gowes bareng ini diinisiasi bersama komunitas lokal sebagai lambang eratnya jalinan persahabatan antara kedua negara.

"Kegiatan ini dilakukan bersama komunitas pesepeda Indonesia. Iran dan Indonesia merupakan dua negara yang memiliki hubungan persahabatan yang sangat baik," kata Yahya.

Menurut penjelasan Yahya, Indonesia dan Iran sendiri tercatat telah mengukir jalinan hubungan diplomatik resmi selama hampir 70 tahun. Bahkan, relasi historis antara masyarakat kedua bangsa sesungguhnya telah mengakar sejak berabad-abad lampau.

"Arezoo merupakan pesepeda internasional asal Iran yang datang ke Jakarta. Kami memilih Jakarta karena setiap akhir pekan terdapat kegiatan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day yang menjadi ruang berkumpul masyarakat dan komunitas pesepeda," ujarnya.

Yahya menceritakan, beberapa tahun silam para pesepeda asal Indonesia juga sempat melakoni ekspedisi sepeda jarak jauh dari bagian selatan hingga ke sisi utara wilayah Iran.

"Saat itu saya turut menyambut mereka. Kini giliran pesepeda Iran yang datang ke Indonesia untuk bersepeda bersama," kata dia.

Yahya menegaskan bahwa esensi utama yang ingin ditekankan melalui kegiatan kolektif ini adalah seruan perdamaian.

"Saat ini Iran sedang menghadapi situasi perang. Kami ingin menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia dan Iran saling mendukung, serta sama-sama menginginkan perdamaian," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh pesepeda yang mengikut serta dalam pergelaran ini sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan, perdamaian, dan secara tegas menolak segala bentuk perpecahan global.

"Para pesepeda yang terlibat dalam kegiatan ini menolak perang dan mendukung terciptanya keamanan. Anak-anak harus aman, para pelajar harus aman, dan masyarakat harus bisa hidup dalam damai," kata Yahya.

Ia menaruh harapan besar agar aktivitas bersepeda bersama ini mampu mengikat tali persaudaraan antara publik Indonesia dan Iran dengan lebih erat lagi.

"Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi kampanye perdamaian, tetapi juga mempererat hubungan masyarakat kedua negara," ujarnya.

Terkini