JAKARTA - Festival Cap Go Meh 2026 yang digelar di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menjadi momen penting untuk menegaskan nilai keberagaman di Indonesia. Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto menekankan bahwa budaya lokal seperti ini mampu memperkaya identitas nasional sekaligus menjadi wujud toleransi.
Dia menegaskan bahwa narasi kebangsaan tidak menuntut keseragaman, melainkan mengedepankan perbedaan sebagai energi pemersatu. Dari Singkawang, seluruh pihak diajak belajar bahwa perbedaan bukan alasan terpecah, tetapi kekuatan untuk bersatu.
Pesan Persatuan dan Kebangsaan
"Mari kita kirimkan pesan kepada dunia, bahwa Indonesia berdiri teguh sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perdamaian, toleransi dan persaudaraan," kata Bambang saat menyampaikan pidato Ketua MPR RI di Festival Cap Go Meh 2026, Selasa. Pernyataan ini menekankan bahwa setiap perayaan budaya dapat menjadi sarana diplomasi kebangsaan yang damai.
MPR RI hadir sebagai lembaga yang membumikan nilai Pancasila dan UUD 1945, menjaga harmoni kebangsaan dalam dinamika sosial. Kehadiran lembaga ini menjadi rumah dialog umat untuk merawat persatuan, menguatkan toleransi, dan memastikan setiap warga negara memiliki kedudukan setara di hadapan konstitusi.
Sejarah dan Peran Masyarakat Tionghoa
Bambang Wuryanto menyoroti sejarah kontribusi masyarakat Tionghoa dalam pembangunan Indonesia, mulai dari perdagangan, pendidikan, kesehatan, hingga perjuangan kemerdekaan. Kontribusi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi kebangsaan dan identitas bangsa.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh melupakan dinamika sejarah yang menghadirkan tantangan dan luka. Namun, pengalaman tersebut membuktikan bahwa kebhinekaan justru menjadi sumber kekuatan bagi persatuan nasional.
Harmoni Multi Kultural di Singkawang
Kota Singkawang dikenal sebagai kota seribu kelenteng, menjadi tujuan merantau masyarakat Tionghoa sejak abad ke-18. Kehadiran komunitas ini bersama masyarakat Melayu dan Dayak membentuk harmoni multi kultural yang menjadi daya tarik kota hingga hari ini.
Festival Cap Go Meh pun menjadi ajang untuk merayakan kebudayaan tersebut sekaligus memperlihatkan kehidupan masyarakat yang dinamis dan toleran. Perayaan ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai pluralisme dapat diwujudkan dalam praktik keseharian dan tradisi lokal.
Komitmen MPR RI terhadap Kebhinekaan
MPR RI berkomitmen untuk terus menjaga persatuan bangsa melalui penguatan toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman budaya. Bambang menegaskan bahwa setiap anak bangsa memiliki kedudukan yang sama, tanpa memandang suku, agama, atau ras.
Dengan dukungan lembaga negara dan partisipasi masyarakat, perayaan budaya lokal seperti Cap Go Meh dapat menjadi simbol persatuan yang menegaskan identitas nasional. Keberhasilan Singkawang dalam menjaga harmoni multi kultural bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Pesan untuk Generasi Muda
Generasi muda diajak memahami bahwa keberagaman bukan hambatan, melainkan kekayaan bangsa yang perlu dijaga. Festival ini menjadi sarana pendidikan nilai toleransi, persaudaraan, dan penghargaan terhadap warisan budaya.
Kegiatan seperti Cap Go Meh juga mendorong semangat kolaborasi antar komunitas yang berbeda latar belakang. Hal ini penting agar nilai-nilai kebhinekaan tetap hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga simbol keberagaman dan toleransi bangsa Indonesia. Dukungan MPR RI dan masyarakat menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi sumber energi positif untuk persatuan, harmoni, dan identitas nasional yang kuat.
Keberhasilan Kota Singkawang menjaga harmoni multi kultural menjadi contoh nyata bagi seluruh daerah di Indonesia. Melalui festival budaya, bangsa dapat menegaskan komitmen terhadap perdamaian, toleransi, dan persaudaraan, sekaligus menguatkan narasi kebangsaan.