Penurunan Harga BBM Non Subsidi Ringankan Beban

Kamis, 19 Februari 2026 | 11:20:58 WIB
Penurunan Harga BBM Non Subsidi Ringankan Beban

JAKARTA - Menjelang awal Ramadhan 1447 H, kabar baik datang bagi masyarakat pengguna kendaraan bermotor. 

Sejumlah perusahaan penyedia bahan bakar minyak menurunkan harga BBM non subsidi sejak 1 Februari 2026. Kebijakan ini memberikan ruang napas bagi pengeluaran transportasi harian yang selama ini cukup membebani.

Penyesuaian harga tersebut berdampak pada berbagai produk BBM yang banyak digunakan masyarakat. Harga-harga baru ini bertahan hingga memasuki hari pertama Ramadhan 1447 H. Kondisi tersebut memberi kepastian bagi konsumen dalam merencanakan kebutuhan mobilitas.

Langkah penurunan harga dilakukan oleh beberapa perusahaan penyedia BBM. Penyesuaian ini mencerminkan dinamika harga energi yang terus bergerak mengikuti kondisi pasar. Bagi pengguna kendaraan, perubahan harga menjadi perhatian utama dalam mengatur anggaran bulanan.

Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi

Sejak awal Februari 2026, sejumlah produk BBM non subsidi mengalami penurunan harga. Kebijakan ini berlaku serentak di berbagai jaringan stasiun pengisian bahan bakar. Dampaknya langsung dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi maupun operasional usaha.

Di wilayah DKI Jakarta, harga Pertamax turun menjadi Rp11.800 per liter dari sebelumnya Rp12.350 per liter. Pertamax Turbo juga mengalami penurunan menjadi Rp12.700 per liter dari Rp13.400 per liter. Penurunan ini memberikan selisih harga yang cukup terasa bagi konsumen rutin.

Selain itu, Pertamax Green 95 turun menjadi Rp12.450 per liter dari Rp13.150 per liter. Dexlite turun menjadi Rp13.250 per liter dari Rp13.500 per liter. Pertamina Dex juga turun menjadi Rp13.500 per liter dari Rp13.600 per liter.

Dampak Penurunan Harga bagi Konsumen

Turunnya harga BBM non subsidi memberikan penghematan langsung pada biaya perjalanan harian. Pengguna kendaraan pribadi merasakan penurunan pengeluaran untuk kebutuhan isi bahan bakar. Dampak ini terasa lebih signifikan bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.

Bagi pelaku usaha kecil yang mengandalkan kendaraan untuk distribusi, penurunan harga membantu menekan biaya operasional. Penghematan pada pos bahan bakar dapat dialihkan ke kebutuhan lain. Kondisi ini memberi ruang lebih longgar dalam pengelolaan keuangan usaha.

Keringanan biaya transportasi juga berdampak pada aktivitas menjelang Ramadhan. Mobilitas masyarakat cenderung meningkat pada periode tersebut. Dengan harga BBM yang lebih rendah, beban pengeluaran dapat sedikit teredam.

Harga BBM Bersubsidi Tetap Stabil

Berbeda dengan BBM non subsidi, harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan. Solar Subsidi tetap berada di angka Rp6.800 per liter. Pertalite dengan RON 90 juga tetap dijual seharga Rp10.000 per liter.

Stabilnya harga BBM bersubsidi memberikan kepastian bagi kelompok masyarakat yang mengandalkan bahan bakar tersebut. Kelompok pengguna ini umumnya berasal dari sektor transportasi publik dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Konsistensi harga membantu menjaga keterjangkauan biaya transportasi.

Kebijakan mempertahankan harga BBM bersubsidi juga menjaga stabilitas biaya logistik. Sektor-sektor yang sangat bergantung pada solar subsidi tetap dapat beroperasi tanpa penyesuaian anggaran mendadak. Hal ini penting untuk menjaga kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok.

Penurunan Harga di SPBU Swasta

Penurunan harga tidak hanya terjadi pada jaringan tertentu. Di SPBU swasta, harga BP 92 turun menjadi Rp12.050 per liter dari Rp12.500 per liter. BP Ultimate juga turun menjadi Rp12.500 per liter dari Rp13.190 per liter.

Produk diesel di jaringan swasta juga mengalami penurunan harga. BP Ultimate Diesel turun menjadi Rp13.600 per liter dari Rp13.860 per liter. Penurunan ini memperluas pilihan konsumen dalam memilih bahan bakar sesuai kebutuhan.

Dengan adanya penyesuaian di berbagai jaringan SPBU, konsumen memiliki lebih banyak alternatif. Persaingan harga antarpenyedia memberi keuntungan bagi pengguna kendaraan. Konsumen dapat memilih BBM dengan kualitas sesuai kebutuhan dan harga yang lebih terjangkau.

Implikasi bagi Mobilitas Ramadhan

Menjelang Ramadhan, kebutuhan mobilitas masyarakat cenderung meningkat. Aktivitas belanja kebutuhan pokok dan kunjungan keluarga biasanya lebih intens. Penurunan harga BBM non subsidi membantu meringankan beban biaya perjalanan tersebut.

Kondisi harga yang bertahan tanpa perubahan hingga awal Ramadhan memberikan kepastian bagi perencanaan keuangan keluarga. Masyarakat dapat memperkirakan pengeluaran transportasi dengan lebih stabil. Kepastian ini penting dalam mengatur anggaran selama bulan puasa.

Secara keseluruhan, penurunan harga BBM non subsidi memberikan dampak positif bagi aktivitas harian. Meski BBM bersubsidi tetap stabil, keringanan pada BBM non subsidi sudah membantu banyak pengguna kendaraan. Situasi ini menciptakan suasana lebih kondusif bagi mobilitas masyarakat selama Ramadhan.

Terkini