Lonjakan Harga Tembaga Global 2026 Pecahkan Rekor 16 Tahun, Investor China Jadi Faktor Utama

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:40:11 WIB
Lonjakan Harga Tembaga Global 2026 Pecahkan Rekor 16 Tahun, Investor China Jadi Faktor Utama

JAKARTA - Harga tembaga mencatat lonjakan tajam hingga menembus level tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Pada perdagangan di London Metal Exchange (LME), Kamis, 29 Januari 2026, harga tembaga naik lebih dari 10 persen, menembus angka di atas 14.400 dollar AS per ton.

Fenomena ini terjadi pada jam perdagangan Asia, di mana investor China mendominasi aktivitas pasar. “Semua kenaikan ini didorong oleh dana spekulatif, kemungkinan besar dari investor China karena lonjakan harga terjadi pada jam Asia,” ujar Kepala Riset Logam Nonferrous di Xiamen C&D Inc., Yan Weijun.

Tembaga merupakan logam yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi listrik dan menjadi favorit investor global. Kenaikan harga logam ini juga didorong oleh peran tembaga dalam transisi energi dan pengembangan pusat data.

Sejak awal Desember 2025, harga tembaga sudah naik sekitar 25 persen. Meskipun demikian, permintaan fisik di China, konsumen terbesar tembaga dunia, justru terpantau melemah.

Spekulasi dan Aktivitas Pasar Global

Struktur pasar di LME menunjukkan contango yang melebar, mengindikasikan pasokan tembaga yang cukup melimpah. Lonjakan harga tembaga ini juga tercermin dari volume perdagangan di Shanghai Futures Exchange (SHFE), bursa komoditas utama China.

Januari 2026 mencatat rekor volume perdagangan tertinggi untuk enam logam dasar di SHFE. Tembaga bahkan mencatat volume perdagangan harian terbesar kedua sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026.

Kenaikan harga logam tidak hanya terjadi pada tembaga, tetapi juga diikuti oleh aluminium dan seng di pasar London. Sementara itu, bijih besi naik hingga 2,5 persen di Singapura, didorong oleh permintaan fisik dan ketegangan geopolitik.

Faktor pelemahan dollar AS turut memperkuat reli harga komoditas global. Spekulasi mengenai pengganti Ketua Federal Reserve (The Fed) AS yang diprediksi lebih dovish daripada Jerome Powell juga mendorong rally logam.

“Komoditas bergantian mengalami reli. Tembaga sudah lama berada di kisaran 13.000 dollar AS dan dana spekulatif mulai mengincarnya,” ujar Deputi Direktur ASK Resources Co., Eric Liu.

Pengaruh Kebijakan Moneter dan Prospek Ekonomi

Ketua The Fed Jerome Powell baru-baru ini menyebut adanya “perbaikan jelas” dalam prospek ekonomi AS. Powell mempertahankan suku bunga saat ini, namun masa jabatannya akan berakhir Juni 2026, membuka peluang bagi Presiden Donald Trump untuk mendorong penurunan suku bunga.

Penurunan suku bunga di AS diprediksi akan mendorong ekspektasi kenaikan harga tembaga. “Selama AS terus memangkas suku bunga dan fokus pada pengembangan AI, chip, serta konstruksi tenaga listrik, ekspektasi kenaikan harga tembaga tetap kuat. Tidak ada batasan jelas seberapa tinggi harga dapat naik,” kata Chief Investment Officer di Shanghai Cosine Capital Management Partnership, Chi Kai.

Namun, beberapa analis memperingatkan bahwa kenaikan harga tembaga sudah mulai melampaui permintaan riil. “Ada kemungkinan penyesuaian teknis karena pembeli fisik di China mulai menahan diri akibat harga yang terlalu tinggi,” ujar Co-Head China Equities Goldman Sachs Group Inc., Trina Chen.

Spekulasi besar-besaran ini menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fisik. Investor terus memanfaatkan momentum untuk mencari keuntungan cepat di pasar tembaga.

Reli harga logam ini juga berdampak pada pasar komoditas lain. Aluminium, seng, dan bijih besi mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir, mengikuti tren tembaga yang melesat.

Ketegangan geopolitik global menjadi salah satu faktor pendorong tambahan. Investor mencari aset fisik sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik dunia.

Permintaan tembaga di sektor energi dan teknologi tetap menjadi fondasi kenaikan harga jangka panjang. Meski pasar spekulatif memicu lonjakan tajam, tren penggunaan tembaga dalam pembangunan pusat data dan transisi energi tetap solid.

Namun, fluktuasi harga yang cepat menuntut kehati-hatian bagi pelaku industri dan investor. Kenaikan yang didorong spekulasi dapat memicu volatilitas dan risiko pasar yang tinggi.

Volume perdagangan yang tinggi di SHFE menunjukkan minat investor China yang besar. Dominasi investor Asia ini menegaskan pentingnya pengaruh pasar regional terhadap harga tembaga global.

Meski harga tembaga melonjak, beberapa produsen dan konsumen mungkin menunda transaksi fisik. Hal ini terjadi karena harga yang terlalu tinggi menimbulkan ketidakpastian dalam perencanaan biaya produksi.

Spekulasi juga mencerminkan optimisme terhadap permintaan jangka menengah dan panjang. Investor melihat tembaga sebagai logam penting untuk energi terbarukan, elektronik, dan infrastruktur modern.

Ketidakpastian pasar tetap ada karena kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, dan spekulasi besar. Para analis menyarankan pelaku pasar untuk memantau kondisi fundamental dan teknikal sebelum mengambil keputusan investasi.

Dalam jangka pendek, lonjakan harga ini membuka peluang keuntungan bagi trader spekulatif. Namun, bagi pembeli fisik, volatilitas yang tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan biaya dan pasokan.

Harga tembaga yang mencapai rekor tertinggi menandai momentum luar biasa di pasar logam global. Investor dan industri harus menyesuaikan strategi menghadapi dinamika pasar yang cepat dan spekulatif.

Terkini